Assalamualaikum wr.wb.
Setelah nyaris satu bulan , saya tidak aktif di blog ini (debojehnews.blogspot) akhirnya saya berhasil membuat blog lagi hari ini. Bila anda penasaran, ini dia profil blog tersebut!
Blog tersebut saya beri nama debojehsoccer.blogspot. Kalau masalah nama Debojeh itu saya kurang tahu apa nama itu (apalagi singkatannya saya kurang tahu). Sedangkan nama Soccer sendiri (dalam Bahasa Indonesia) adalah sepak bola. Jika digandeng nama Debojeh ataupun Soccer-nya artinya adalah blog khusus Sepak Bola.
Tagline atau slogan blog debojehsoccer.blogspot adalah "The Soccer One". The Soccer One sendiri (dalam bahasa Indonesia) adalah Persatuan Sepak Bola, artinya adalah sepak bola di seluruh dunia ini harus bersatu. Jangan sampai sepak bola hancur semua. Apalagi sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling banyak diminati di Indonesia, meski masyarakat Indonesia suka klub klub ternama dari Eropa (Barcelona, Real Madrid , Atletico Madrid , Chelsea FC , Liverpool FC , Arsenal, dll).
Seperti blog saya sebelumnya yang bernama debojehnews.blogspot , isi isi yang terkandung di debojehsoccer.blogspot adalah berita sepak bola. Berita yang saya masukkan ke blog tersebut adalah berita tentang pertandingan liga liga ternama di dunia (salah satunya Eropa). Selain itu jadwal pertandingan sepak bola nanti akan saya masukkan bersama dengan berita berita sepak bola yang akan datang , itupun juga termasuk hasil skor pertandingan sepak bola sebelumnya.
Saya tidak mungkin aktif di blogger maupun di internet (khusus komputer saya) setiap harinya. Saya hanya aktif di depan komputer saya hanya pada hari Sabtu, Minggu, serta hari libur nasional meski jatuh di hari kerja (kecuali kemarin, karena saya tertidur hingga sore hari).
Itu saja yang bisa saya sampaikan, untuk yang mau membuka blog debojehsoccer.blogspot silahkan ,kalau mau komentar silahkan. Terima kasih dan Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta - Setelah pro-kontra yang cukup panjang, Presiden
Jokowi memutuskan untuk mengganti kandidat calon Kapolri. Dia memutuskan
untuk membatalkan pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan dan mengusulkan
pengangkatan Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai pengganti calon
Kapolri.
"Hari ini saya akan berbicara masalah yang berkaitan
dengan Polri dan KPK," ucap Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu
(18/2/201).
"Yang pertama, mengingat bahwa pencalonan Komisaris
Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri telah menimbulkan perbedaan
pendapat di masyarakat, maka untuk menciptakan ketenangan, dan kebutuhan
Kepolisan RI untuk segera dipimpin oleh seorang Kapolri yang definitif,
maka hari ini kami mengusulkan calon baru yaitu Komjen Pol Badrodin
Haiti," imbuh dia.
Selama ini, Badrodin merangkap sebagai
Pelaksana Tugas Kapolri. Ini lantaran Jokowi telah memberhentikan
Kapolri sebelumnya, Jenderal Polisi Sutarman dan mengusulkan Budi
Gunawan sebagai penggantinya.
Namun pengangkatan Budi Gunawan
mendapatkan banyak protes setelah mantan ajudan Megawati Soekarnoputri
itu tersandung kasus dugaan transaksi mencurigakan oleh KPK.
Namun akhirnya pencalonannya dibatalkan meskipun sidang praperadilan
atas status tersangkanya telah diterima oleh PN Jakarta Selatan dan
dinyatakan tak sah oleh hakim Sarpin Rizaldi.
Surabaya - Tiga jenazah korban kecelakaan Pesawat Airasia QZ8501,
diberangkatkan ke Bandara Juanda, Surabaya, menggunakan Pesawat Casa
NC212 Skuadron Udara 600 Wing Udara I Pusat Penerbangan TNI Angkatan
Laut, dari Bandara Gusti Syamsir Alam Stagen, Kotabaru, Kalimantan
Selatan.
Anggota SAR Pos Kotabarun Muhammad Imam Nazarudin
mengatakan, tiga jenazah tersebut terdiri atas dua perempuan dan satu
laki-laki tersebut. Mereka diterbangkan dari Bandara Stagen, Kotabaru ke
Surabaya sekitar pukul 08.05 Wita.
Sebelumnya, ketiga jenazah tersebut ditemukan di perairan Maradapan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Hingga
hari ke-21 pencarian, total ada 51 jenazah yang ditemukan dari 162
orang yang berada di AirAsia QZ8501. Dari jumlah tersebut, 40 jenazah di
antaranya sudah teridentifikasi.
Pesawat AirAsia rute
Surabaya-Singapura hilang kontak dari Air Traffic Controller (ATC)
Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 28 Desember 2014 sekitar pukul 06.17 WIB.
Airbus A320-200 dengan nomor penerbangan QZ8501 itu lepas landas dari
Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pukul 05.20 WIB, dan seharusnya
tiba di Bandara Changi, Singapura, pukul 08.30 waktu setempat.
Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan
keputusan terkait kepemimpinan di tubuh Polri. Jokowi membuat 2
keputusan presiden terkait pemberhentian Jenderal Polisi Sutarman
sebagai Kapolri dan mengangkat Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai
Pelaksana Tugas (Plt) Kapolri.
"Tadi sore, saya menandatangani 2
Keppres, 2 Keputusan Presiden, yang pertama tentang pemberhentian
dengan hormat Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri, Keppres yang
kedua tentang penugasan Komjen Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas
Kapolri," ujar Jokowi saat menyampaikan pengumuman tersebut di Istana
Merdeka, Jumat (16/1/2015).
Pasca-keluarnya Keppres tersebut,
Jokowi mengatakan, tugas dan kewenangan dalam mengemban kepemimpinan
tertinggi di tubuh Polri telah beralih kepada Komjen Pol Badrodin Haiti
sebagai Plt Kapolri.
"Penugasan Wakapolri Komjen Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas dan wewenang tanggung jawab Kapolri," ucap Jokowi.
Pantauan Liputan6.com,
Jokowi menyampaikan pengumuman tersebut sekitar pukul 20.10 WIB. Jokowi
yang mengenakan kemeja biru bercorak hijau itu didampingi Wakil
Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Kapolri
Jenderal Polisi Sutarman dan Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti.
Tugas dan kewenangan dalam mengemban kepemimpinan tertinggi di
tubuh Polri telah beralih kepada Komjen Badrodin Haiti sebagai Plt
Kapolri.
Jakarta - Tahun 1998, sebagaimana 1966, adalah salah satu titik
perhentian penting kita sebagai bangsa. Di tahun itu, kita melihat
sebuah gejolak sosial dan politik yang pada gilirannya mengubah arah
perjalanan bangsa ini, mengakhiri sebuah zaman lama (Orde Baru) dan
memulai zaman baru.
Maka, ketika ada sineas mengangkat gejolak sosial politik tahun 1998 dan memilih judul Di Balik 98, ekspektasi yang muncul adalah filmnya membeberkan apa yang terjadi di balik gejolak di tahun itu.
Hal itu, misalnya, yang rasanya membuat film ini jadi perbincangan
ramai bahkan sebelum tayang dan ditonton orang banyak. Film ini
dikhawatirkan tidak menyuguhkan kebenaran sejati seputar peristiwa di
tahun itu.
Well, menurut saya, mereka yang tempo hari sempat khawatir akan isi film Di Balik 98
dan berkesempatan menonton filmnya, pasti bakal bernapas lega. Yang
muncul bisa jadi malah reaksi lain lagi. Mau tahu reaksi saya usai
nonton? Ini: "Haaah… begini doang filmnya?"
Untuk memulai kritik ini mari kita mulai dari pilihan kosa kata di judul. Film ini semula punya judul Di Balik Pintu Istana. Entah bagaimana judulnya diubah jadi Di Balik 98. Menonton filmnya tempo hari, judul kedua yang akhirnya dipilih terasa lebih tepat.
Namun, judul itu pun tak meninggalkan prolematikanya tersendiri.
Pangkal soalnya terletak pada pilihan frasa "Di Balik". Kata "Balik"
menurut kamus memiliki arti “sisi yang sebelah belakang dari yang kita
lihat.”
Maka, ketika judul yang dipilih adalah "Di Balik 98", ekspektasi
penonton atau calon penonton pada filmnya adalah mendapat suguhan apa
yang terjadi di balik peristiwa gejolak sosial-politik tahun 1998.
Setidaknya itu ekspektasi saya. Dan saya rupanya terlalu berharap.
Ujungnya, saya merasa menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu).
Tantangan pertama adalah soal teknik sinema. Bila diistilahkan, film
berlatar 1998 boleh dibilang berjenis "period piece" yang kurang lebih
artinya film berdasar peristiwa di masa lalu. Peristiwa sosial politik
1998 terjadi 16 tahun lalu. Hal ini mengandung pra syarat, agar filmnya
memenuhi unsur make-believe atau reka percaya, sang Film (dengan F besar) harus berhasil mengajak penonton ke masa itu. Segala mise-en-scene alias apa yang tersaji di layar wajib membawa penonton seolah sedang bertamasya ke tahun 1998.
Tantangan kedua, apa yang terjadi di tahun 1998 hingga kini masih
jadi diskursus yang belum usai. Sebuah karya berlatar peristiwa tahun
1998 artinya pula menambah satu lagi materi pada diskursus tersebut.
Sebuah tesa akan menghasilkan anti-tesa; sebuah tafsir bakal
menghasilkan anti-tafsir.
Lukman Sardi sepatutnya sadar betul saat hendak memfilmkan kisah ini,
ia dihadapkan pada satu pertanyaan krusial: tesis apa yang hendak ia
tawarkan seputar peristiwa 1998 lewat filmnya? Dan juga, bagaimana ia
menafsirkan peristiwa itu ke dalam bahasa gambar?
Untuk tantangan pertama, teknik sinema, Lukman patut dapat pujian.
Terlihat betul upayanya membuat film yang otentik sesuai zaman itu, masa
16 tahun lalu. Kerja keras Lukman menghadirkan film berskala epik
terlihat. Ia sedikit-banyak mampu menghadirkan zaman itu ke layar lewat
bahasa gambarnya.
Kita lihat, misalnya, Lukman mempertontonkan kendaraan-kendaraan
militer di sepanjang film. Lihat pula bagaimana ia merekonstruksi adegan
demo besar mahasiswa berikut barikade aparat yang menghalanginya.
Tengok juga saat ia merekonstruksi kerusuhan Mei 1998. Atau bagaimana ia
menggambarkan situasi genting yang dihadapi elit politik masa itu, dari
mulai Suharto (diperankan Amoroso Katamsi, kembali jadi Suharto setelah
Pengkhianatan G30S/PKI dan Djakarta 1966), Amien Rais, Harmoko,
Habibie, Wiranto, Prabowo hingga Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu
masih tentara aktif.
Lewat film ini setidaknya kita bisa melihat kemampuan Lukman Sardi
menyutradarai sebuah film epik. Hasilnya nggak malu-maluin. Untuk
tantangan pertama Lukman patut dapat ponten tujuh.
Nah, di tantangan kedua, menurut saya, nilai Lukman agak kurang. Cukup lima saja. Kenapa? Begini penjelasannya.
Seperti dibilang di awal tulisan ini, saat bertemu dengan judul Di Balik 98 yang terbayang adalah filmnya mengungkap sesuatu yang tidak diketahui seputar peristiwa di tahun tersebut. Misalnya, JFK karya Oliver Stone berhasil menyuguhkan tesis versi sutradara atas kenapa Presiden Kennedy dibunuh.
Namun tidak begitu dengan Di Balik 98. Lukman memilih
bermain aman. Ia menyuguhkan apa yang umumnya sudah diketahui orang
seputar peristiwa 1998—terutama bagi mereka yang mengalami tahun
tersebut.
Lukman bukan Oliver Stone yang punya keberanian mengangkat hal
kontroversial seputar peristiwa kematian Kennedy. Lukman, misalnya,
mengabaikan tesis kalau kerusuhan Mei 1998 sejatinya rekayasa alias ada
dalang terorganisir di balik kerusuhan itu. Lukman pun tampak sekelumit
saja mengangkat perlakuan pada etnis Tionghoa saat kerusuhan Mei 1998.
Untuk soal satu ini, Di Balik 98 malah terasa sebuah kemunduran dibanding May (Viva Westi, 2008) yang lebih berani mengangkat derita korban perkosaan saat kerusuhan Mei 1998.
Bagi Lukman makna "Di Balik" pada judulnya adalah kisah sebuah
keluarga serta rakyat biasa lainnya di tengah prahara 1998. Kita melihat
sebuah keluarga yang terdiri dari seorang mahasiswi universitas
Trisakti (diperankan Chelsea Islan) yang giat berdemo, punya kakak
seorang pegawai dapur Istana Presiden (diperankan Ririn Ekawati) yang
tengah hamil besar, bersuamikan seorang tentara (diperankan Donny
Alamsyah). Kita juga melihat si mahasiswi punya pacar satu kampus
beretnis Tionghoa (diperankan Boy William). Lalu juga ada seorang
pemulung (diperankan Rifnu Wikana) beranak satu, kemana-mana membawa
gerobak di tengah Jakarta yang "hamil tua" saat krisis moneter, jelang
kerusuhan besar dan suksesi presiden.
Sebetulnya tak ada yang istimewa dari tiga sub plot di atas. Kisah
mahasiswi yang punya ipar tentara tujuannya hendak menghantarkan premis
ironisme: Bagaimana jadinya bila seorang pendemo punya kerabat tentara?
Pun begitu dengan kisah mahasiswa etnis Tionghoa. Ironismenya adalah,
saat kerusuhan melanda, etnis Tionghoa tetap jadi korban, tak peduli
apakah ia sebetulnya ikut gerakan perubahan agar bangsa ini jadi lebih
baik. Sedang pada kisah pemulung kita menemukan, pada hakikatnya, rakyat kecil yang seolah tak berarti yang jadi korban.
Jika memang begitu makna “di balik” menurut Lukman Sardi atas peristiwa 1998, sungguh judul yang ia pilih tampak terlalu gagah.
Jika diperhatikan lagi, Lukman tampak menghabiskan energinya
merekonstruksi segala peristiwa penting seputar 1998 berikut para
pelakunya. Kita melihatnya repot-repot mengasting sejumlah aktor untuk
memerankan elit-elit politik masa itu serta meminta mereka beradegan di
momen-momen genting tahun 1998.
Hanya saja ya itu tadi, yang disuguhkan Lukman tak ada bedanya dari
yang sudah kita ketahui dari buku maupun kliping koran dan majalah era
itu. Pada titik ini, ia bermain aman. Ia tak hendak menyuguhkan hal
kontroversial maupun tafsir berbeda. Ia tak berniat menawarkan teori
konspirasi versinya atas peristiwa 1998.
Yang disajikannya malah tafsir generik yang dangkal. Tengok misalnya,
saat demo di jalan depan kampus Trisakti yang berujung bentrok dengan
aparat serta kematian empat mahasiswa. Dalam tafsir Lukman, dari
kerumunan demo mahasiswa yang damai, mendadak beberapa orang keluar dan
menyerang aparat. Emosi aparat pun tersulut. Sejurus kemudian demo jadi
ricuh dan rusuh. Orang-orang yang awalnya menyerang aparat ini tak
memakai jas almamater, yang berarti mereka bukan dari kalangan
mahasiswa.
Bagi saya, itu tafsir generik. Yang terjadi tak sesederhana ditampilkan
Lukman di layar. Hingga kini tak jelas betul apa rusuh demo depan kampus
Trisakti dipicu provokator yang bukan mahasiswa atau tidak. Kalaupun
menurut tafsir Lukman demo itu dipicu provokotor, ia tak berniat
mengelaborasinya lebih jauh, dengan, misalnya, ada pihak yang bermain di
air keruh agar demo mahasiswa rusuh, aparat main pentung, bahkan bila
perlu ada yang terbunuh.
Menonton Di Balik 98 yang segera terpatri dalam ingatan adalah film Djakarta 1966.
Film itu rilis 1982, juga enam belas tahun setelah peristiwanya
terjadi. Disutradarai Arifin C. Noer film tersebut adalah versi resmi
pemerintah Orde Baru atas pergolakan politik tahun 1966.
Karena versi resmi, Djakarta 1966 didanai rumah produksi
milik pemerintah, PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dengan G. Dwipayana,
orang kepercayaan Suharto, salah satu arsitek historiografi Orde Baru,
sebagai pemimpinnya.
Djakarta 1966 juga sekadar menyuguhkan rentetan kronologis prahara
politik masa itu hingga lahirnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas
Maret) di tahun 1966.
Tanpa didanai negara, Lukman Sardi bersedia membuat versi resmi kisah
1998. Dibilang versi resmi lantaran tafsirnya atas peristiwa tersebut
umum-umum saja, persis sebuah doku-drama. Tafsir model begini tentu
berguna bagi generasi yang akan datang bila hendak menengok sejarah
bangsa kita tahun itu. Namun, tidakkah hal tersebut kemudian menimbulkan
ironinya tersendiri? Entahlah.
Sumber: liputan6.com
Simak baik film ini di gedung bioskop se-Indonesia mulai 15 Januari 2015.
Padang - Duel tuan rumah Semen Padang melawan Persebaya Surabaya
akan menjadi laga pembuka fase Grup A SCM Cup 2015. Kedua kesebelasan
akan bentrok di Stadion H Agus Salim, Padang, Sabtu (17/1/2015) sore.
Laga ini menjadi laga 'penasaran' bagi kedua pelatih. Pasalnya keduanya belum pernah bentrok dalam beberapa tahun terakhir.
Musim
ini, Tim Bajul Ijo resmi menunjuk Ibnu Grahan sebagai pelatih
menggantikan Rahmad Darmawan. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri
bagi Ibnu dengan banyaknya materi pemain baru di skuatnya.
"Saya
akan mencoba mengkombinasikan pemain muda dan senior. Di laga ini, tentu
saya ingin melihat kekompakkan dan keutuhan tim ini," ujar Ibnu Grahan,
pelatih Persebaya.
Sedangkan di kubu Semen Padang, tidak banyak
terjadi perubahan dari skuat Indonesia Super League (ISL) 2014. Jafri
Sastra yang membawa Semen Padang menembus babak delapan besar Indonesia
Super League (ISL) 2014 dengan beberapa pemain bintangnya, tetap
dipercaya sebagai pelatih.
Akan tetapi, Semen Padang tidak akan
diperkuat pemain tengah Eka Ramdani. "Eka mengalami cedera, kita tidak
daftarkan namanya untuk pertandingan melawan Persebaya," kata Jafri.
Sebagai
pengganti Eka, pelatih asal Payakumbuh akan memaksimalkan peran pemain
tengah lainnya, yakni Vendry Mofu dan Yu Hyun Koo. Meski cukup
kehilangan dengan absennya Eka, Jafri optimistis pemain lainnya bisa
menggantikan peran gelandang berpostur mungil tersebut.
Di lain
pihak, Persebaya tidak ingin meremehkan kekuatan Semen Padang. Menurut
pelatih Ibnu Grahan, absennya Eka di lini tengah Semen Padang bukan
sebuah peluang emas bagi timnya.
"Kita tidak melihat hilangnya
satu pemain mereka. Tanpa Eka Ramdani, mereka masih punya pemain
berkelas, ada Dzumafo, Vizcara, Yu Hyun Koo, Vendry Mofu dan Hengky
Ardilles."