Jumat, 20 Februari 2015

Akhirnya, Ada Blog Khusus Sepak Bola

Assalamualaikum wr.wb.
Setelah nyaris satu bulan , saya tidak aktif di blog ini (debojehnews.blogspot) akhirnya saya berhasil membuat blog lagi hari ini. Bila anda penasaran, ini dia profil blog tersebut!

Blog tersebut saya beri nama debojehsoccer.blogspot. Kalau masalah nama Debojeh itu saya kurang tahu apa nama itu (apalagi singkatannya saya kurang tahu). Sedangkan nama Soccer sendiri (dalam Bahasa Indonesia) adalah sepak bola. Jika digandeng nama Debojeh ataupun Soccer-nya artinya adalah blog khusus Sepak Bola.

Tagline atau slogan blog debojehsoccer.blogspot adalah "The Soccer One". The Soccer One sendiri (dalam bahasa Indonesia) adalah Persatuan Sepak Bola, artinya adalah sepak bola di seluruh dunia ini harus bersatu. Jangan sampai sepak bola hancur semua. Apalagi sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling banyak diminati di Indonesia, meski masyarakat Indonesia suka klub klub ternama dari Eropa (Barcelona, Real Madrid , Atletico Madrid , Chelsea FC , Liverpool FC , Arsenal, dll).

Seperti blog saya sebelumnya yang bernama debojehnews.blogspot , isi isi yang terkandung di debojehsoccer.blogspot adalah berita sepak bola. Berita yang saya masukkan ke blog tersebut adalah berita tentang pertandingan liga liga ternama di dunia (salah satunya Eropa). Selain itu jadwal pertandingan sepak bola nanti akan saya masukkan bersama dengan berita berita sepak bola yang akan datang , itupun juga termasuk hasil skor pertandingan sepak bola sebelumnya.

Saya tidak mungkin aktif di blogger maupun di internet (khusus komputer saya) setiap harinya. Saya hanya aktif di depan komputer saya hanya pada hari Sabtu, Minggu, serta hari libur nasional meski jatuh di hari kerja (kecuali kemarin, karena saya tertidur hingga sore hari).

Itu saja yang bisa saya sampaikan, untuk yang mau membuka blog debojehsoccer.blogspot silahkan ,kalau mau komentar silahkan. Terima kasih dan Wassalamualaikum wr.wb.

Selamat Hari Raya Imlek



Saya sebagai pemilik blog debojehnews.blogspot mengucapkan selamat hari raya Imlek kepada seluruh warga Tionghoa di seluruh dunia. Gong Xi Fa Cai.

Rabu, 18 Februari 2015

Jokowi Batal Lantik Budi Gunawan Jadi Kapolri

                                               Presiden RI, Joko Widodo.

Jakarta - Setelah pro-kontra yang cukup panjang, Presiden Jokowi memutuskan untuk mengganti kandidat calon Kapolri. Dia memutuskan untuk membatalkan pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan dan mengusulkan pengangkatan Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai pengganti calon Kapolri.

"Hari ini saya akan berbicara masalah yang berkaitan dengan Polri dan KPK," ucap Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (18/2/201).

"Yang pertama, mengingat bahwa pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri telah menimbulkan perbedaan pendapat di masyarakat, maka untuk menciptakan ketenangan, dan kebutuhan Kepolisan RI untuk segera dipimpin oleh seorang Kapolri yang definitif, maka hari ini kami mengusulkan calon baru yaitu Komjen Pol Badrodin Haiti," imbuh dia.

Selama ini, Badrodin merangkap sebagai Pelaksana Tugas Kapolri. Ini lantaran Jokowi telah memberhentikan Kapolri sebelumnya, Jenderal Polisi Sutarman dan mengusulkan Budi Gunawan sebagai penggantinya.

Namun pengangkatan Budi Gunawan mendapatkan banyak protes setelah mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu tersandung kasus dugaan transaksi mencurigakan oleh KPK.

Namun akhirnya pencalonannya dibatalkan meskipun sidang praperadilan atas status tersangkanya telah diterima oleh PN Jakarta Selatan dan dinyatakan tak sah oleh hakim Sarpin Rizaldi.

Sumber: liputan6.com

Sabtu, 17 Januari 2015

3 Jenazah Korban AirAsia Diberangkatkan ke Surabaya, Total 51

Surabaya - Tiga jenazah korban kecelakaan Pesawat Airasia QZ8501, diberangkatkan ke Bandara Juanda, Surabaya, menggunakan Pesawat Casa NC212 Skuadron Udara 600 Wing Udara I Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut, dari Bandara Gusti Syamsir Alam Stagen, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Anggota SAR Pos Kotabarun Muhammad Imam Nazarudin mengatakan, tiga jenazah tersebut terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki tersebut. Mereka diterbangkan dari Bandara Stagen, Kotabaru ke Surabaya sekitar pukul 08.05 Wita.

Sebelumnya, ketiga jenazah tersebut ditemukan di perairan Maradapan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Hingga hari ke-21 pencarian, total ada 51 jenazah yang ditemukan dari 162 orang yang berada di AirAsia QZ8501. Dari jumlah tersebut, 40 jenazah di antaranya sudah teridentifikasi.

Pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura hilang kontak dari Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 28 Desember 2014 sekitar pukul 06.17 WIB. Airbus A320-200 dengan nomor penerbangan QZ8501 itu lepas landas dari Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pukul 05.20 WIB, dan seharusnya tiba di Bandara Changi, Singapura, pukul 08.30 waktu setempat.

Sumber: liputan6.com

Jokowi Copot Sutarman dan Angkat Badrodin Haiti Jadi Plt Kapolri

Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan keputusan terkait kepemimpinan di tubuh Polri. Jokowi membuat 2 keputusan presiden terkait pemberhentian Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri dan mengangkat Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kapolri.

"Tadi sore, saya menandatangani 2 Keppres, 2 Keputusan Presiden,‎ yang pertama tentang pemberhentian dengan hormat Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri, Keppres yang kedua tentang penugasan Komjen Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas Kapolri," ujar Jokowi saat menyampaikan pengumuman tersebut di Istana Merdeka, Jumat (16/1/2015).

Pasca-keluarnya Keppres tersebut, Jokowi mengatakan, tugas dan kewenangan dalam mengemban kepemimpinan tertinggi di tubuh Polri telah beralih kepada Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai Plt Kapolri.

"Penugasan Wakapolri Komjen Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas dan wewenang tanggung jawab Kapolri," ucap Jokowi.

Pantauan Liputan6.com, Jokowi menyampaikan pengumuman tersebut sekitar pukul 20.10 WIB. Jokowi yang mengenakan kemeja biru bercorak hijau itu didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Kapolri Jenderal Polisi Sutarman dan Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti. 

Di Balik 98: Catatan dari Korban PHP Film `Di Balik 98`

Jakarta - Tahun 1998, sebagaimana 1966, adalah salah satu titik perhentian penting kita sebagai bangsa. Di tahun itu, kita melihat sebuah gejolak sosial dan politik yang pada gilirannya mengubah arah perjalanan bangsa ini, mengakhiri sebuah zaman lama (Orde Baru) dan memulai zaman baru.

Maka, ketika ada sineas mengangkat gejolak sosial politik tahun 1998 dan memilih judul Di Balik 98, ekspektasi yang muncul adalah filmnya membeberkan apa yang terjadi di balik gejolak di tahun itu.
Hal itu, misalnya, yang rasanya membuat film ini jadi perbincangan ramai bahkan sebelum tayang dan ditonton orang banyak. Film ini dikhawatirkan tidak menyuguhkan kebenaran sejati seputar peristiwa di tahun itu.

Well, menurut saya, mereka yang tempo hari sempat khawatir akan isi film Di Balik 98 dan berkesempatan menonton filmnya, pasti bakal bernapas lega. Yang muncul bisa jadi malah reaksi lain lagi. Mau tahu reaksi saya usai nonton? Ini: "Haaah… begini doang filmnya?"

Untuk memulai kritik ini mari kita mulai dari pilihan kosa kata di judul. Film ini semula punya judul Di Balik Pintu Istana. Entah bagaimana judulnya diubah jadi Di Balik 98. Menonton filmnya tempo hari, judul kedua yang akhirnya dipilih terasa lebih tepat.

Namun, judul itu pun tak meninggalkan prolematikanya tersendiri. Pangkal soalnya terletak pada pilihan frasa "Di Balik". Kata "Balik" menurut kamus memiliki arti “sisi yang sebelah belakang dari yang kita lihat.”

Maka, ketika judul yang dipilih adalah "Di Balik 98", ekspektasi penonton atau calon penonton pada filmnya adalah mendapat suguhan apa yang terjadi di balik peristiwa gejolak sosial-politik tahun 1998. Setidaknya itu ekspektasi saya. Dan saya rupanya terlalu berharap. Ujungnya, saya merasa menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu).

Tantangan pertama adalah soal teknik sinema. Bila diistilahkan, film berlatar 1998 boleh dibilang berjenis "period piece" yang kurang lebih artinya film berdasar peristiwa di masa lalu. Peristiwa sosial politik 1998 terjadi 16 tahun lalu. Hal ini mengandung pra syarat, agar filmnya memenuhi unsur make-believe atau reka percaya, sang Film (dengan F besar) harus berhasil mengajak penonton ke masa itu. Segala mise-en-scene alias apa yang tersaji di layar wajib membawa penonton seolah sedang bertamasya ke tahun 1998.

Tantangan kedua, apa yang terjadi di tahun 1998 hingga kini masih jadi diskursus yang belum usai. Sebuah karya berlatar peristiwa tahun 1998 artinya pula menambah satu lagi materi pada diskursus tersebut. Sebuah tesa akan menghasilkan anti-tesa; sebuah tafsir bakal menghasilkan anti-tafsir.
Lukman Sardi sepatutnya sadar betul saat hendak memfilmkan kisah ini, ia dihadapkan pada satu pertanyaan krusial: tesis apa yang hendak ia tawarkan seputar peristiwa 1998 lewat filmnya? Dan juga, bagaimana ia menafsirkan peristiwa itu ke dalam bahasa gambar?

Untuk tantangan pertama, teknik sinema, Lukman patut dapat pujian. Terlihat betul upayanya membuat film yang otentik sesuai zaman itu, masa 16 tahun lalu. Kerja keras Lukman menghadirkan film berskala epik terlihat. Ia sedikit-banyak mampu menghadirkan zaman itu ke layar lewat bahasa gambarnya.

Kita lihat, misalnya, Lukman mempertontonkan kendaraan-kendaraan militer di sepanjang film. Lihat pula bagaimana ia merekonstruksi adegan demo besar mahasiswa berikut barikade aparat yang menghalanginya. Tengok juga saat ia merekonstruksi kerusuhan Mei 1998. Atau bagaimana ia menggambarkan situasi genting yang dihadapi elit politik masa itu, dari mulai Suharto (diperankan Amoroso Katamsi, kembali jadi Suharto setelah Pengkhianatan G30S/PKI dan Djakarta 1966), Amien Rais, Harmoko, Habibie, Wiranto, Prabowo hingga Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu masih tentara aktif.

Lewat film ini setidaknya kita bisa melihat kemampuan Lukman Sardi menyutradarai sebuah film epik. Hasilnya nggak malu-maluin. Untuk tantangan pertama Lukman patut dapat ponten tujuh.

Nah, di tantangan kedua, menurut saya, nilai Lukman agak kurang. Cukup lima saja. Kenapa? Begini penjelasannya.

Seperti dibilang di awal tulisan ini, saat bertemu dengan judul Di Balik 98 yang terbayang adalah filmnya mengungkap sesuatu yang tidak diketahui seputar peristiwa di tahun tersebut. Misalnya, JFK karya Oliver Stone berhasil menyuguhkan tesis versi sutradara atas kenapa Presiden Kennedy dibunuh.

Namun tidak begitu dengan Di Balik 98. Lukman memilih bermain aman. Ia menyuguhkan apa yang umumnya sudah diketahui orang seputar peristiwa 1998—terutama bagi mereka yang mengalami tahun tersebut.

Lukman bukan Oliver Stone yang punya keberanian mengangkat hal kontroversial seputar peristiwa kematian Kennedy. Lukman, misalnya, mengabaikan tesis kalau kerusuhan Mei 1998 sejatinya rekayasa alias ada dalang terorganisir di balik kerusuhan itu. Lukman pun tampak sekelumit saja mengangkat perlakuan pada etnis Tionghoa saat kerusuhan Mei 1998. Untuk soal satu ini, Di Balik 98 malah terasa sebuah kemunduran dibanding May (Viva Westi, 2008) yang lebih berani mengangkat derita korban perkosaan saat kerusuhan Mei 1998.

Bagi Lukman makna "Di Balik" pada judulnya adalah kisah sebuah keluarga serta rakyat biasa lainnya di tengah prahara 1998. Kita melihat sebuah keluarga yang terdiri dari seorang mahasiswi universitas Trisakti (diperankan Chelsea Islan) yang giat berdemo, punya kakak seorang pegawai dapur Istana Presiden (diperankan Ririn Ekawati) yang tengah hamil besar, bersuamikan seorang tentara (diperankan Donny Alamsyah). Kita juga melihat si mahasiswi punya pacar satu kampus beretnis Tionghoa (diperankan Boy William). Lalu juga ada seorang pemulung (diperankan Rifnu Wikana) beranak satu, kemana-mana membawa gerobak di tengah Jakarta yang "hamil tua" saat krisis moneter, jelang kerusuhan besar dan suksesi presiden.


Sebetulnya tak ada yang istimewa dari tiga sub plot di atas. Kisah mahasiswi yang punya ipar tentara tujuannya hendak menghantarkan premis ironisme: Bagaimana jadinya bila seorang pendemo punya kerabat tentara?

Pun begitu dengan kisah mahasiswa etnis Tionghoa. Ironismenya adalah, saat kerusuhan melanda, etnis Tionghoa tetap jadi korban, tak peduli apakah ia sebetulnya ikut gerakan perubahan agar bangsa ini jadi lebih baik. Sedang pada kisah pemulung kita menemukan, pada hakikatnya, rakyat kecil yang seolah tak berarti yang jadi korban.

Jika memang begitu makna “di balik” menurut Lukman Sardi atas peristiwa 1998, sungguh judul yang ia pilih tampak terlalu gagah.

Jika diperhatikan lagi, Lukman tampak menghabiskan energinya merekonstruksi segala peristiwa penting seputar 1998 berikut para pelakunya. Kita melihatnya repot-repot mengasting sejumlah aktor untuk memerankan elit-elit politik masa itu serta meminta mereka beradegan di momen-momen genting tahun 1998.

Hanya saja ya itu tadi, yang disuguhkan Lukman tak ada bedanya dari yang sudah kita ketahui dari buku maupun kliping koran dan majalah era itu. Pada titik ini, ia bermain aman. Ia tak hendak menyuguhkan hal kontroversial maupun tafsir berbeda. Ia tak berniat menawarkan teori konspirasi versinya atas peristiwa 1998.

Yang disajikannya malah tafsir generik yang dangkal. Tengok misalnya, saat demo di jalan depan kampus Trisakti yang berujung bentrok dengan aparat serta kematian empat mahasiswa. Dalam tafsir Lukman, dari kerumunan demo mahasiswa yang damai, mendadak beberapa orang keluar dan menyerang aparat. Emosi aparat pun tersulut. Sejurus kemudian demo jadi ricuh dan rusuh. Orang-orang yang awalnya menyerang aparat ini tak memakai jas almamater, yang berarti mereka bukan dari kalangan mahasiswa.

 Bagi saya, itu tafsir generik. Yang terjadi tak sesederhana ditampilkan Lukman di layar. Hingga kini tak jelas betul apa rusuh demo depan kampus Trisakti dipicu provokator yang bukan mahasiswa atau tidak. Kalaupun menurut tafsir Lukman demo itu dipicu provokotor, ia tak berniat mengelaborasinya lebih jauh, dengan, misalnya, ada pihak yang bermain di air keruh agar demo mahasiswa rusuh, aparat main pentung, bahkan bila perlu ada yang terbunuh.

 Menonton Di Balik 98 yang segera terpatri dalam ingatan adalah film Djakarta 1966. Film itu rilis 1982, juga enam belas tahun setelah peristiwanya terjadi. Disutradarai Arifin C. Noer film tersebut adalah versi resmi pemerintah Orde Baru atas pergolakan politik tahun 1966.

Karena versi resmi, Djakarta 1966 didanai rumah produksi milik pemerintah, PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dengan G. Dwipayana, orang kepercayaan Suharto, salah satu arsitek historiografi Orde Baru, sebagai pemimpinnya.

Djakarta 1966 juga sekadar menyuguhkan rentetan kronologis prahara politik masa itu hingga lahirnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) di tahun 1966.

Tanpa didanai negara, Lukman Sardi bersedia membuat versi resmi kisah 1998. Dibilang versi resmi lantaran tafsirnya atas peristiwa tersebut umum-umum saja, persis sebuah doku-drama. Tafsir model begini tentu berguna bagi generasi yang akan datang bila hendak menengok sejarah bangsa kita tahun itu. Namun, tidakkah hal tersebut kemudian menimbulkan ironinya tersendiri? Entahlah.

Sumber: liputan6.com
Simak baik film ini di gedung bioskop se-Indonesia mulai 15 Januari 2015. 





SCM Cup 2015: Semen Padang Vs Persebaya: Ajang Pembuka SCM Cup 2015


Padang - Duel tuan rumah Semen Padang melawan Persebaya Surabaya akan menjadi laga pembuka fase Grup A SCM Cup 2015. Kedua kesebelasan akan bentrok di Stadion H Agus Salim, Padang, Sabtu (17/1/2015) sore.

Laga ini menjadi laga 'penasaran' bagi kedua pelatih. Pasalnya keduanya belum pernah bentrok dalam beberapa tahun terakhir.

Musim ini, Tim Bajul Ijo resmi menunjuk Ibnu Grahan sebagai pelatih menggantikan Rahmad Darmawan. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Ibnu dengan banyaknya materi pemain baru di skuatnya.

"Saya akan mencoba mengkombinasikan pemain muda dan senior. Di laga ini, tentu saya ingin melihat kekompakkan dan keutuhan tim ini," ujar Ibnu Grahan, pelatih Persebaya.

Sedangkan di kubu Semen Padang, tidak banyak terjadi perubahan dari skuat Indonesia Super League (ISL) 2014. Jafri Sastra yang membawa Semen Padang menembus babak delapan besar Indonesia Super League (ISL) 2014 dengan beberapa pemain bintangnya, tetap dipercaya sebagai pelatih.

Akan tetapi, Semen Padang tidak akan diperkuat pemain tengah Eka Ramdani. "Eka mengalami cedera, kita tidak daftarkan namanya untuk pertandingan melawan Persebaya," kata Jafri.

Sebagai pengganti Eka, pelatih asal Payakumbuh akan memaksimalkan peran pemain tengah lainnya, yakni Vendry Mofu dan Yu Hyun Koo. Meski cukup kehilangan dengan absennya Eka, Jafri optimistis pemain lainnya bisa menggantikan peran gelandang berpostur mungil tersebut.

Di lain pihak, Persebaya tidak ingin meremehkan kekuatan Semen Padang. Menurut pelatih Ibnu Grahan, absennya Eka di lini tengah Semen Padang bukan sebuah peluang emas bagi timnya.

"Kita tidak melihat hilangnya satu pemain mereka. Tanpa Eka Ramdani, mereka masih punya pemain berkelas, ada Dzumafo, Vizcara, Yu Hyun Koo, Vendry Mofu dan Hengky Ardilles."

Sumber: liputan6.com